Akhir Setetes Harapan

Setetes harapan yang kutuang dalam secangkir cinta
Menguap dalam keheningan batin yang kosong
Mengembun dalam kepalsuan rasa
Membeku dalam kerasnya sukma

Harapanku yang bangun
Dari hati yang paling hina
Dari raga yang penuh cerca
Dari jiwa yang terluka
Menetes mencari pasangannya

Tetesan itu pun telah tumpah
Tumpah dan terus mengalir
Tapi,
Kemana tetesan itu mengalir?
Ia mengalir dalam samudra asmara
Yang tak pasti kapan hentinya

Terombang-ambing oleh badai
Hingga ia tak dapat henti dalam sebuah daratan
Padahal daratan itu adalah harapannya
Kemanakah engkau wahai daratan?
Aku ingin memelukmu

Tetesan harapan pun tak kuasa
Melanjutkan perjalanan
Hingga memilih sebuah keputusan
Keputusan yang berat
Tapi,
Tak dapat digugat

Aku memilih sebuah pulau
Pulau yang kecil di tengah samudra
Karena aku ingin sebentar bersandar
Hingga kakiku kembali pulih seperti sedia kala
Bukanya aku telah terombang-ambing badai
Di samudra yang tak ada celahnya

Di pulau ini aku bisa merasakan sedikit kenyamanan
Aku bisa menghirup harumnya dunia ini
Aku bisa meraba diriku kembali
Hingga aku dapat jadikan pulau ini
Sebagai pilihan hidupku

Atau mungkin,
Akan muncul harapan baru
Yang suatu saat malaikat akan menolongku
Mendapatkan sebuah daratan yang lebih indah
Yang mewanai hidup baruku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: