DUKA SI CACAT

Ada iman dalam khalbu ini
Ada setumpuk keagungan yang tersirat
Dalam mayapada ini
Bisa bicara kebaikan atau kejahatan
Aku ingin lepas kepenatan
Yang mengganjal dikakiku
Tuk melangkah maju mencari siapa diri-Nya
Tentang keangungan yang belum terungkap
Di pikirku………………….
Ada seribu ketidakberdayan
Untuk menerangkan siapa Dia
Dia adalah sumber kekuatan segalanya
Dia adalah maha dari Maha Seagalanya

Kedua tangan ini terangkat
Mengucap sepatah doa’
Memohan jalan terang………
Malam yang gelap nan kelam
Telah kulahap tanpa celah
Tanpa bintang-gemintang
Yang menyejukkan mataku
Yang menerangkan hatiku

Begitupun dengan fajar
Kala mentari memamerkan cahyanya
Pada dunia ………
Tak pernah ia sinari mata ini
Hanya udara panas yang kuhirup
Tuk mengisi rongga paruku
Di kehidupan ini
Tak kudengar nyayian ayah bundaku
Yang menghias tidurku
Hanya gemuruh tak jelas
Hiasi kelopak-kelopak hidupku

Namu, kelopakku tetap segar……..
Menguar diudara bersama tekad
Untuk tunjukkan kebesaranku
“Sebagai Anak Cacat”
Tak ada beda dengan kalian yang ……..
Bisa merasakan dunia ini
Memang mulutku bisu
Memang mataku buta
Memang telingaku tuli
Memang kakku cacat
Tapi tanganku tetap hidup
Sebagai penuntun hidupku
Tuk berdiri tegak bersama kalian

Lewat tangn ini……
Kutakhukkan dunia bersama
Goresan kata yang mampu
Menundukkan hatimu…!
Menundukkan hatimu…!

Advertisements

RASA YANG TERLAMBAT

Saat kuterjebak oleh hujan ku berteduh di teras putih sekolah. Tak sengaja imajiku meluapkan sesuatu. Penderitaan yang ditinggal orang kita kita cintai ternyata lebih sakit dari luka bakar atau sayatan benda tajam. Gemericik hujan yang pelan jatuhnya, kala itu, membuat diriku berpikir tentang sosok bayang yang menarik hati. Sejenak, jeratan masa laluku lepas begitu saja. Langit masih tertutup awan gelap, Yang Diatas sedang menunjukkan kekuatannya kepada umat manusia di Bumi Ronggolawe ini. Tak ada satu pun manusia yang mampu untuk melawan-Nya. Pelangi pun tak ada semakin menambah murung dunia kali ini. Mataku mengembara kesana kemari, menerawang apa yang akan terjadi padaku setelah ku ditinggal orang yang dicinta.
Jarum jam arloji telah menunukkan pukul 16.30 hari semakin sore. Anginpun semakin ribut mengeluarkan gemuruhnya, diatas kulihat petir saling bersahut-sahutan dengan getaran listrik putihnya. Kuterpikir sudah saatnya untuk menerobos hujan yang menyebalkan ini. Pabila tak kuterobos hujan ini maka bisa-bisa aku sampai isyak terjebak disini. Kukukuhkan niatku untuk melawan hujan ini, namun saat akan kupancal sepeda, hawa rasanya menjadi lain. Mendadak sesosok wanita seperti pelangi dengan warna merah muda, layaknya dewi dalam diri manusia. Perasaan ini menjadi lain indra keenamku menyuruhku berhenti dan dan menatap wajahnya. Tanpa kusadari mataku memandangnya terus dari ufuk tanpa berkedip. Merah muda warna yang bagus, lembut dan membuat seseorang terlihat anggun bila memakainya. Matanya yang kalem dan santai, yang bersinar seperti kilauan mutiara telah mamaksaku berkata.”Masya Allah masih ada saja wanita seperti ini di abad 21, kukira telah mati ditelan peradaban modern.” Tak seperti biasa aku yakin ini yang terbaik dari yang baik. Biasanya serba terbuka tapi ini lain berjilbab dan …pasti punya akhlak baik.
Tak sampai disini kekagumanku terhadapnya, hal ini membuatku rela berlama-lama di tempat parkir hanya tuk melihat secara utuh dirinya. Dari ujung kaki sampai keatas kepala yang tertutup rapi dengan kerudung merah muda membuatku terpaku tak tahu ungkapan atau bahkan kata indah yang harus aku ucap. Terlihat olehku ia begitu terburu-buru dan bergegas untuk meninggalkan sekolah ini. Detik-detik berlalu dan menjadi menit hujanpun tak mau mengalah. Setajam pisau mataku ingin mengerti siapa dia. Dibalik pohon aku mengamatinya dan kulihat ia terburu-buru naik sepeda bersama seorang temannya. Begitu sepeda distater dan langsung maju dengan kecepatan tinggi. Saat kupandang dan mencapai titik terjauh mata ia berbelok kemuadiam menengok kebelakang dan tersenyum kepadaku. Hal ini membuatku semakin tergoda akan dirinya yang muncul begitu mendadak. Arlojilku dengan beberapa titik air hujan sudah menunjukkan pukul 15.15, tanpa pertimbangan aku langsung menerobos hujan ini, melawan dingin dan petir sialan ini. Bagiku aku bisa selamat sampai di rumah merupakan hal yang baik daripada tidak.
Sesampai dirumah pikiranku menghayal dewi dalam diri manusia hari ini sampai tak kauran. Belajarpun jadi kacau dan waktu itu mnemaksaku menulis sebuah puisi. Dan berikut puisinya;
SENJA DI BARAT

Izinkan aku menulis
Mungkin akan terdengar membosankan
Mungkin juga memuakkan
Kemarin….aku melihat
Mentari terbit di ufuk timur
Dan kini ia berdiri didepanku
Tersenyum……memikatku…….
Tulisan ini bukan tulisan biasa
Setiap kata punya makna
Aku rasa……
Kutak bisa melupakan bayangan itu
Siti……Solicah………
Bagiku sama .!
Apa hatimu berkenen ?
Jika berkenan biarkan aku
Menatap matamu, melihat wajahmu
Yang bersinar putih melebihi kelopak melati
Ingin ku kisahkan cerita
Tentang aku dan engkau
Entah esok atau nusa dan … entah
Memilukan …….
Mengagungkan………
Kaukah itu yang beristirahat denganku..?
Senja di ufuk barat…….

Hari sekolah telah dimulai. Kebetulan hari ini kosong jadi aku dan teman-teman pergi ke warung De Mutt untuk sarapan. Saat berjalan menuju ke warung aku melihat dewi dalam diri manusia itu sedang bersandar di pojok menyimak pelajaran hari itu. Tak sengaja mata kami saling bertemu pandang, kalau tak salah sampai membentuk sudut 180 derajat. Namun pandangan itu hanya sesaat karena aku disapa oleh Anang. Sesampainya di warung, teman-teman bertanya siapa yang aku pandang tadi. Aku jawab aku tak tahu siapa dirinya. Kamipun tidak membahasnya dan melanjutkna makan nasi pecel lagi.
Bel istirahat berbunyi, rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Aku segera ke kelas XA dan menanyai Anang siapa dan bagaimana dia. Setelah kubertanya dan mendapatkan informasi yang cukup aku segera kembali ke kelasku. Dan ini puisi saat ku mencoba memujanya.
TENTANGMU

Tersenyumlah .
Meski jauh!dapat kurasa dari sini
Saat dekat, saat kata berpeluk
Engkau membumbungkan khayalku
Engkau menenggelamkan asaku di dasar hati
Betapa kagum diriku
Atas aura yang kau pancarkan
Memancarlah terang jangan pernah redup
Bisakah aku mengenalmu lebih jauh…
Sang Dewi..?
Meski terang bukan untukku
Tapi kubisa nikamati dari sini
Antara ada dan tiadakah harapan ini..?
Di benakku hanya ada tentangmu
Tentangmu ….
Dan hanya tentangmu ..?

S
ungguh aneh di beberapa kesempatan yang kebetulan aku selalu bertemu dengan dirinya dan memberanikan menyapanya. Karena waktu itu hampir setiap hari bertemu, tapi hanya satu saja yang bisa kuceritakan. Bulan April adalah bulan yang bersejarah bagi kaum wanita. Tepat pada hari Sabtu tanggal 16 April SMA I Tuban diadakan peringatan hari Kartini, dimana setiap siswa diwajibkan memakai kebaya bagi wanita dan batik untuk yang laki-laki. Diantaranya diadakan pemilihan Putri Kartini di Aula. Aku tetap mendukung kelasku sepenuhnya juga dia. Ia tetap mendukung kelasnya, ini membuat kami untuk adu mulut dan akhirnya rukun juga karena jarakku dengan dia semakin dekat. Hanya terpaut satu lantai kira-kira 20 cm. Kupandangi ia dengan ekpresi sinis ia pun membalas yang sama. Terus aku bertanya.
”Wah ijo, mengapa kok pakai hijau?”tanyaku dengan gaya muka manis.
”Apa ….ijo!kalau ijo itu dilihat mata seger daripada item”jawabnya.
”Kok gak pakai pink lagi”tanayku dengan gaya santai rada meremehkan.
”Bosen….”dengan jawaban yang singkat ia menggelengkan kepala kekanan dan kekiri.
”Apa bener kamu siti …..solikah…!tanyaku sambil ku pisah-pisah mengejanya.
”Bener..kamu sendiri siapa…Apa kamu Jauuuh…buanget…?’’ tanya ia sambil mengejek.
”Iya …aku lagi bawa hp mau ya tak foto,habis kamu orangnya asik”pintaku sambil memuji.
”Jangan ah….mau kamu buat apa?”tanya ia dengan kelembutannya sebagai wanita.
”Ya…telat udah tak jepret jadi maaf udah terlanjur.” jawabku sederhana.
”Ah…knapa sih gak bilang-bilang…mana …!”pintanya.
“Ya ni lihat aja …tapi jangan di hapus !”ancamku
”Enggak…enggak..gak tak hapus jangan kuatir”jawabnya untuk memastikan
Waktu ku sodorkan hp tanganku mengenai permukaan tangannya yang halus. Uh… semakin mengagumkan saja waninta ini. Selang beberapa saat hp kuterima kembali. Banyak teman yang mengejek kami tapi tak kuhiraukan karena masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Dapat kurasai dia sangat menakjubkan atau aku yang terlalu melebih-lebihkan. Dasar aku……kurang apa…semua hidupku telah terpenuhi tak ada yang kukeluh apa ini sebuah beban baru. Ah sudahlah mudah-mudahan tak akan terjadi apa-apa. Akhirnya pemelihan Putri Kartini telah usai, wakil dari kelasnya menang dan ini membuatku malu. Tetapi tak apa, karena putri terfaforit jatuh ke tangan wakil dari kelasku untung ada obat untuk tutup malu.
Acara telah selesai tapi kekagumanku belum selesai, semakin jelas sudah dimana aku bisa membatasi sebatas apa yang aku kagumi. Ini adalah puisi dengan tema Kartini……..

PUTRI KARTINI

Ibu engkau sosok pahlawan bangsa
Dari ufuk timur
Engkau terbit bersama mentari
Membuka harapan baru untuk kami
Engkau perintis kaum wanita
Untuk sejajar laki-laki
Aku disini mencari arti akan dirimu
Atas kerja kerasmu
Seabad lebih jenih payahmu
Membawa kami maju selangkah
Bahkan tundukkan kaum adam
Tapi arti ini taklagi terniang
Di kepala kami
Dan kini,
Kurasa kebebasan dunia
Telah menenggelamkan semangatmu
Di hati kami …
Kami sadar,
Engkaulah penerang di kegelapan
Ibu lewat 21 Aprilmu
Engkau hadir lagi
Dalam jiwa raga kami
Mengenang kemarin
Kami tertunduk lesu
Kami kini berpuisi
Mendendangkan kebesaranmu
Sadarlah kaum hawa
Kita ini bukan yang begini
Kita ini putri Indonesia
Putri…putri ….
Putri Kartini.
Puisi ini kubuat dengan mengibaratkan tentang generasi wanita sekarang.

****
Sekolah telah dimulai kembali, pelajaran aktif lagi apalagi bulan ini menjadi bulan penuh hikmah bagiku. Karya Imiah yang kukirim di Diknas ternyata mendapat respon, Kamis nanti aku akan mempresentasikannya. Tapi, sayang Siti semakin cuek kepadaku seolah tak mengangap aku ini manusia. Mungkin ia anggap aku angin yang lalu. Karena sikapnya seperti ini akau panggil ia dengan sebutan pesek (perasaan Siti etu Cuek amaku). Setiap bertemu dengannya kupanggil pesek dan pesek serta pesek.Hal ini membuatnya marah dan membuatnya bilang bahwa hidungnya itu tidak pesek.
*****

Awal pelajaran baru telah dimulai. Kelasku tetap menjadi kelas XI-IPA V dan aku semakin senang karena sekarang aku bisa ngeliat Siti terus. Sekarang ia duduk di XI-IPA IV. Sudah banyak informasi yang kuketahui mulai dari nomor hp, apa ia jomblo atau udah gak jomblo lagi. Tapi rasaku ini kan masih sebatas kagum jadi ya tetap kuteruskan menjalin hubungan pertemanan yang cukup rumit ini.
Sejak kutahu nomor hpnya aku sering menggodanya, kadang lewat misscall atau dengan sms-sms usil. Suatu ketika ia kehabisan pulsa dan aku mengisinya karena ia sendiri yang minta entah serius atau tidak. Akhirnya bertepatan dengan aku yang mau isi aku juga mengisikan pulsa di hpnya dengan cara elektrik. Setelah diterima aku telepon dia dan sambil kugoda aku menanyainya secara langsung apakah ia masih jomblo atau tidak, dan jawabnya tidak. Jadi, ya gak masalah untung saja rasaku ini belum berkembang jadi cinta selamatlah aku dari sakit hati. Tapi bila aku mengenalnya lebih awal akan kumiliki dia. Mungkin bila tepat disebut sebuah”Rasa Yang Terlambat.”
Dan sebagai rasa terima kasihku kupersembahkan puisi-puisi ini untukmu. Karena kau salah satu inspirasiku menggapai perjalanan panjang. Thank’s Siti. Semoga kita bertemu di waktu yang lain dan tempat yang berbeda dengan rasa yang berbeda pula.
Assalammualaikum…..Wr….Wb.
7 Agustus 2005

MENTARI

Engkau sangat terang seperti mentari
Sangat menyilaukan lain dari yang biasa
Mengagumkan sampai ke dasar hatiku
Apakah hadirmu …..?
Hanya sebuah kisah yang tak pernah singgah..!
Di kehidupan ini dan akan menjadi nyata.
Seperti bulan lelap
Yang tidur di ketenangan hati
Kau begitu cepat sebarkan kehidupan dihatiku
Menyemikan tunas baru ….
Lepaskan dari jeritan tangis masa lalu.
Wahai perempuan kapanku bisa bersanding didekatmu lagi…
Meski tak ada cinta
Takkan mungkin kau tolah persahabatan kan?
Benarkah?
Jangan terlalu pengecut tuk bilang tidak
Karena kau lebih berkuasa sebagai Mentari

(Agar kau mengenalku ini adalah tentangku)

HIDUPKU

Masaku yang penuh tawa hilang sudah
Waktuku yang penuh manja berangsur pergi
Terbang, hilang, membumbung tinggi
Meninggalkan setumpuk puisi hati
Buaian ibu dikala tidurku
Berganti sepi meringkus mimpi
Sederet nasehat dari ayahku
Berubah hampa tiada tersisa
Kini aku seorang diri…
Jalani hidup di negeri terasing
Berbekal satu harapan dan cita
Kurajut benang hidupku dengan pasti
Disini bagaikan terpidana
Terkurung dalam pulau tak dikenal
Jauh dari keluarga dan orang tercinta
Hanya kehampaan yang selalu setia menemani
Aku disini untuk apa?
Jauh ..datang dari desa
Mengadu nasib di pusat kota
Berperang hidup melawan rasa
Rindu orang tua….
Rindu keluarga …..
Rindu desa tercinta
Bahkan rasa CINTA

Namun tekad takkan goyah
Karena cita telah menyatu bersama darah
Dan harapan untuk maju
Menyusup ke paru-paru lewat nafasku
Lewat sebatang pena ini
Kan kuukir masa depan penuh arti
Kan kugali ilmu untuk esok nanti.

PENANTIAN

Telah lama ku menanti…..
mentari tersenyum, berseri
sinari setiap jalan hidup,
puisi adalah nyawaku,
Setiap huruf kuubah
jadi deretan kata indah
mengandung sejuta makna…,
Lama ku mencari arti embun
yang turun di petanaman,
hasratku terapung dalam jiwa
kelembutan rima,..
nafsuku tenggelam di pepatah sajak,
kuhidupkan kata-kata mati.
Namun hidup bukan hanya hidup,
bila ini jalan hidupku,…
maka jangan kau tinggalkanku.
Ceritakan suka dukamu
di teras hatiku….
Dan jika kata telah berpeluk
sapalah aku…
walau hanya secarik
ataukah sepatah kata .

PEREMPUAN
Perempuan yang menyanyi
Di tebing malam-malam bintang
Di jurang kesunyian alam
Kala matamu mengirimkan seratus senja
Ke belantara batinku yang dikutuk kata
Sebuah puisi bagai angin
Menerbangkanku kepada putih wajahmu
Dan seperti cahya bintang
Tubuhmu menyalakan keindahan abadi
Hingga aku berlari ke arahmu
Membawa jiwa kagumku untuk ku lebur

Kupuja segalanya
Meski diriku sebuah gurun
Tanpa mata air yang mampu membasuhmu
Tetapi engkau gelora lautan
Mendebarkan bayi-bayi mimpi
Saat bulan menanggalkan topeng
Bagi langit malam yang durjana.
Yang menari dalam badai
Abadilah bayang jelitamu!
Puisiku menjelma kereta kencana
Menjemput auramu
Ketika tarianmu menjadi kastil bernyawa
Menggetarkan auraku
Bagi harpa Istar yang menggelombangkan sebuah nada
Perempuan yang membunuhku dengan senyuman
Jangan kau pejamkan matamu
Ingin kuledakkn kagumku di
Api biru hatimu…!

WHAT IT’S?

Hari- hari semakin berat saja, lelah rasanya memikirkanmu. Mau aku tinggalkan tak mungkin, ingin kuanggap sebuah kenangan kututup dan kubuka lembar baru sangat sulit. Semua yang telah aku lakukan percuma saja. Sudah 3 hari tak ada yang bisa buatku lupa dengan Vi.
Berjuta impian kini tak pernah terajut. Senyum pun tak pernah terbagi untuk orang lain. Kini aku hanya bisa tersenyum untuk diriku sendiri menertawan semua yang telah terjadi. Mungkin tak bisa kulewati hari-hari selanjutnya tanpa sebuah senyuman. Senyum sangat bearti untukku karena bersama sebuah senyuman aku bisa letakkan indahnya kebersamaan.
Hampir setiap saat aku sempatkan bertemu dengannya, bertanya kabarnya pada siter-sister. Sapaku pun tak berarti lagi baginya. Wajahnya pun kini tak tampak ceria dan hanya kemarahan yang ada. Sadar atau tidak aku merasa jadi orang yang sangat munafik kalau aku bisa hidup tanpanya.
Memaknai peristiwa kemarin sudah tak ada artinya lagi. Mungkin terlalu sakit hatinya tak mungkin hal kemarin bisa balik berulang. Aku hanya bisa lihat dirinya dari kejauhan ketika kuingin mengucap sebuah kalimat tiga kata “Vi maafkan aku” tak ada tanggapan yang serius apalagi waktu yang cukup untuk memandangnya tersenyum manis. Bila ini terbaik untuk kita, hidup dalam kesendirian dan lepas dari sebuah kebersamaan meninggalkan semua apa yang telah kita rencanakan, menghapus semua asa kita dan kini terpisah dari sebuah senyuman.
Betapa sakit waktu itu, sepulang sekolah sekitar pukul 12.25 bel berbunyi dan waktunya untuk pulang. Aku sengaja tetap di tempat parkir dan mengabaikan semua temanku yang mengajak pulang bareng. Ku dalam hati selalu berdoa untuknya agar bisa maafkan aku kelak walapun tidak hari ini. Namun semuanya semu ketika sapaan untuknya tak dihiraukan sama sekali.
“Vi….!”sapaku
“Vi….!”sapaku
“Vi….! Kamu masih ngambek?napa Vi kok g’ bisa maafin aku?Apa g ‘ da kesempatan untukku yang kedua?”tanyaku dengan memelas tanpa hiraukan anak-anak yang melihatku.
Entah berapa kali aku menyapanya namun tetap tidak ada respon. Aku ingin kamu bercerita apa yang buat kamu g’ bisa kasih maaf. Vi apa yang haruk kulakuin? Karena kecewa yang aku dapat maka kuputuskan untuk segera pulang. Untuk melupakan hari ini sangat sulit, jadi aku putuskan untuk kebut-kebutan di jalan seperti biasa kalau lagi BT. Entah keberapa kalinya aku akan menabrak tapi aku masih sangat beruntung. Sampai-sampai aku ditantang kebut-kebutan oleh Gus May. Tapi tetap tak aku hiraukan ajakannya itu.
Ingin aku larut dalam hari sepi esok dan memulai hidup baruku. Namun bagaimana bisa? Kini Vi tak pernah anggap aku ada. Baiklah aku harus rubah pikiranku. Aku harus bisa menjadi yang lain. <Apa aku bisa?>
***
Langit sedang cerah, angin bertiup sangat kencang, menyeret awan putih yang lembut ke berbagai arah dan buat orang untuk menumpahkan segala kegelisahannya. Angan dan kahayalan dalam kesendirian bisa membawa seseorang larut di kesedihan atau dalam kesenangan. Ja masih teringat dengan Selasa yang lalu dimana ia tak bisa dapatkan maaf dari teman dekatnya yang telah mulai ia yakini sebagai motivasi untuk meraih sebuah impian. Tapi sayang kesalahan yang mestinya tak terjadi telah buat Vi tak memberi kesempatan yang kedua, walau hanya untuk sedetik menyapa dan mengucapkan terima kasih.
Tapi masa lalu adalah bagian dari kehidupan, sebuah permulaan pasti ada akhirnya. Dengan nafas yang setengah-setengah aku kembali sadar untuk menguatkan dirinku sendiri. Aku langsung mengajak semua temenku ke Laut menemaniku yang lagi tak bisa menentukan arah. Bagian yang paling disukai orang di pantai adalah bermain pasir, melihat mentari terbit ataupun tenggelam. Aku membuang masalah dan kembali menuju kebebasan. Setelah ku berteriak sekeras-kerasnya, ku mengajak meditasi dan berdoa untuk kebersamaan yang aku bina bersama temanku karena aku tak mau kehilangan teman yang ke dua kalinya. Bagaimanapun persahabatan adalah hal yang bermakna dalam kehidupan. Haripun semakin malam dan tak ada yang sanggup dengan angin malam ini. Jadi semua pilih untuk pulang ke rumah masing-masing.
Hari ini sekolah telah dimulai lagi Kamis, 14 September 2006. Hari ini tek ada pelajaran karena semua guru sibuk menyambut team penilai LLSS dari pusat. Takkan mungkin kita bertahan hidup dalam kesendirian. Aku tak bisa lepas dari rasa yang bersalah ini. Yang semakin hari buat aku merasa jadi orang yang bodoh. Dalam kesendirian aku terlalu sepi dan seolah tak bearti lagi untuk orang disekitarku.
Jadwal hari ini adalah membersihkan kelas masing-masing. Dan semuanya pabila telah selesai boleh pulang ke rumah. Tepat jam ’10 bel pulang telah berbunyi. Semua anak segera saja mengambil tasnya dan keluar dari pintu gerbang secepat mungkin. Lain dengan aku yang masih bengong di tempat duduk taman depan Kopsis sambil membawa Es Tea. Awalnya aku tidak merasa sepi namun setelah teman-temanku satu-persatu pergi meninggalkan aku, baru kusadari menunggu memang banyak cobaan. Tapi tentunya adalah perbuatan yang mulia. Bagaikan sebuah pribahasa Jawa Tunggak jati bakale mati, tunggak jarak bakale urip.(Vi artikan sendiri ya……>>>>!)
Sudah 2 jam lebih Vi bersama Dyan juga belum kelihatan batang hidungnya. Tapi tekadku sudah bulat aku akan tetap menunggu Vi karena 3 hari kedepan aku tak bisa melihatnya. Dalam hatiku aku tetap berdoa dia bisa kembali tersenyum dan memberiku maaf. Semua ada akibatnya dan semua ada nilainya. Dari tempat duduk ku bangkit dan melangkah ke parkir. Aku menunggunya dan akirnya tepat 3 jam aku menunggu dia telah datang. Dari kejauhan dia terlihat murung dan dalam trouble yang cukup besar….(sok tahu bangey ya!)
Tanpa kusadari aku melihat dia mengeluh pada kakkinya yang terkena knalpot sepeda motor. Entah apa yang akan kukatakan bila ia telah ada didepan mataku. Mungkin juga aku akan bilang kata yang sama dan akan selalu ku ulang untuknya.
“Mas ne dia lagi BT coz kakinya kena knalpot sepeda! Kasihan mas…!”Kata Dyan padaku sambil melempakan senyumnya yang manis.
“Masa Dik…! Vi…..!”sapa ku dengan wajah yang frustasi.
Berbeda dengan Vi sejak turun dari sepeda dia telah mencembungkan pipinya dan menyempitkan kedua mulutnya seraya menatap semua orang dengan tatapan kemarahan yang sangat besar. Tetap saja aku beranikan diri berkata “Vi maafkan aku ya ?” tapi apa dia tak menggubris semua panggilanku. Sia –sia saja semua penantianku sejak tadi. Aku langsung men-starter sepedaku dan pulang dengan cepat. Aku cuma bisa berkata pada diriku sendiri. What it’s it? It’s too difficult to understand.
Vi kamu udah tahu banget jalan crita selanjutnya kan? Terusin sendiri yaw!Makasih kamu udah buat aku jadi lebih mengerti tentang sesuatu yang harus dijaga

SO SWEET !!!!

Apa yang kita harapkan adalah orang lain bisa hargai semua apa yang ada dalam diri kita, termasuk semua kekurangan dan kelebihan. Setiap aku melihatnya tersenyum manis buat hati ini jadi tahu arti kebersamaan. Matanya dengan tatapan yang dalam nan serius buatku tahu betapa gigihnya perjuangannya untuk jadi VI yang ceria dalam setiap langkahnya.
“Aku jadi ill feel ma kamu …..!Pokoknya kita cerai saja!”marah Vi sambil menekuk kedua bibirnya yang tipis seraya mencembungkan pipinya
“Vi…..!kamu benaran marahnya?”tanyaku yang tidak serius yang sejak tadi habis tampil langsung menyiram keringat pada Vi.
“Mbohhh……mbohhhhh……mbohhhhhh!pokoknya aku illfeel banget ma kamu. Sekarang g’ usah dekat Vi lagi ,gak usah nyapa pi lagi…!Pokoknya kita cerai…!”kata Vi tanpa memandang mataku dan dari situ kutahu ku telah menyakiti hatinya yang baik.
“Vi……maafin aku Vi….!”Please…..!”pintaku dengan memelas
“Cuih………”tanpa sedikitpun memandangku dan langsung melipat kedua tangannya diatas perutnya. Dengan memalingkan muka langsung saja pergi tanpa menghiraukanku.
Di satu pihak Clara tak dapat menahan tawanya
“Ra’….! pa yang harus kulakuin agar aku di maafkan olehnya?’tanyaku pada Clara dengan semua resah yang ada.
“G’tahu juga mas…!Vi jarang marah kayak gitu…!”kata Clara tanpa sanggup memberi solusi
“Piye iki……Pasti dia marah banget ma aku!Huh…..apa yang harus aku lakukan untuknya agar dia bisa maafin aku..?Ya Tuhan apa yang baru saja aku lakukan?”gumamku dalam hati di depan pintu Aula yang semakin ramai oleh anak-anak lain

Aku takkan menyerah disini aku kan terus minta maaf sampai dimaafkan. Terlihat Vi dan bandnya sedang mengambil kursi kemudian duduk dengan tenang. Kudapati Vi telah kembali tersenyum pada orang disekitarnya. Dari sini aku merasa dia udah baikan jadi kuputuskan untuk meneruskan perjuanganku meinta maaf. Akupun dalam hati optimis aku telah dimaafkan. Segera saja aku hampiri Vi!
“Vi…..!”sapa ku
“Apa….!’jawab Vi pendek tapi sangat aneh sekali ketika dia bilang “apa” Vi tersenyum manis banget tetapi ketika tahu aku yang menyapa ia langsung merubah senyumnya jadi marah seketika itu. Hal ini membuat aku patah semangat dan menyerah begitu saja. Aneh banget mungkin Vi terlalu sensitif dan aku terlalu menyakitinya dan merusak senyumnya.
“Vi maafin aku Vi!Please…..!pintaku berkali-kali namun Vi cuma memalingkan muka dan melarikan pandangannya ke arah lain yang pasti dia sudah muak denganku. Entah berapa kali aku ucap dengan kalimat yang sama tanggapannya sama tak rubah sejak tadi, seperti nasi telah menjadi bubur yang tak bisa kembali lagi. Langsung saja aku keluar Aula dan mencari cara minta maaf agar Vi kembali seperti biasanya.
Detik-detikku pun disini sudah tak ada artinya. Percuma aku senyum, aku seneng kalau orang yang buat aku ketawa bebas udah g’ mau maafin aku. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus bawa hadiah, atau yang lain? Sungguh malang hariku. Setengah jam telah berlau, pikiran dan hati ini tidak tenang rasanya bila tak dimaafkan Vi. Di depan Aula aku hanya diam dan merenungi kesalahanku hari ini, apa yang telah kulakukan hari ini sampai-sampai aku tak bisa dimaafkan untuk pertama kalinya.
Aku mengenal Vi mungkin baru sebulan lebih tapi udah banyak senyum yang dibagi ke aku, banyak tawa dan canda yang buat aku rindu dengan kebersamaannya. Vi apa yang ada dalam dirimu….?apa aku tak bisa habiskan waktu yang sempit ini? Suasana yang semakin semrawut di depan membuatku tak tenang dan rasanya telah menyerah untuk berkata ”Maafkan Aku Vi!” Ketika aku dengar MC mengatakan perwakilan kelas X_F silakan menuju ke depan.
Langsung saja aku bangkit dari tempat dudukku dan masuk ke dalam. Sungguh memukau penampilan kelas X-F pa lagi Vi, dengan suara emasnya ..>>!Aku langsung pinjam HP temenku agar aku bisa melihatnya tersenyum lagi dari jarak yang aku ingin. Semula tak ada niatan untuk mengambil gambarnya!Tetapi melihat senyumnya yang bebas tanpa beban aku ingin mengabadikannya dalam sebuah foto. Karena foto seribu kata-kata, apalagi kalau Vi senyum So…Sweeet……..Manis Banget!
“Vi….!”ku sapa dengan memfokuskan HP. Vi masih menahan senyumnya dan akupun langsung mengambil gambarnya dengan cepat. Untung saja aku bersama anak lain yang mengambil gambarnya kalau tidak dia takkan senyum. Terbukti ketika anak yang lain telah kembali dan Vi langsung mengubah senyumnya jadi marah yang tak terkendali yang buatku tak berani menatap matanya. Lansung saja aku kembali ke kursi dan duduk dengan tenag. Padahal yang ada dalam benak ini bagaimana aku harus minta maaf….?

Penampilan Band dari kelompok X_F telah selesai dan kini aku harus berjuang kembali untuk mendapatkan maaf darinya. Semua manusia tak lepas dari segala rasa, rasa cinta, rasa sayang dan banyak lagi. Memahami orang lain jauh lebih mudah daripada memahami diri sendiri. Aku dan kau apa ada rasa? Atau kau dan aku, kau dan dia, Entahlah………yang tahu hanya diri kita sendiri. Soal perasaan mungkin kita bisa bohong tetapi soal tingkah laku itu tidak mungkin Mengapa…? Sehati-hatinya kita menyembunyikan perasaan tapi kita tak akan bisa menahan dengan memutus hubungan intrapersonal. Menyendiri, menyepi atau bahkan menghindar dari orang itu. Yang kutahu Vi kini talah masuk kehidupanku dan secara langsung senyum dari matanya mengalir tulus yang buatku merindukan itu dalam celah hariku.
Perjuanganku tak terhenti di sini dan ketika itu Vi sedang makan Donat dan akupun kembeli mengulang kata.
“Vi maafin aku….!please Vi!”
“Bentar g’liat apa Vi lagi maem. Vi laper ni….jangan ganggu!”
“Entar abiz maem donat aku dimaafin kan?”
“Vi aku boleh ngomong kan?”pintaku dengan sedikit memelas
“Ya silakan aja !”suruh Vi
“Aku kira hal tersulit di dunia ini mengucapkan terima kasih pada orang. Dan minta maaf adalah yang mudah. Tapi hari lain dengan kenyataan. Betapa sulitnya minta maaf padamu.Vi maafin aku Vi!”
Dan Vi tanpa sepatah katapun tak menjawabnya dan tak menghiraukanku. Akupun sudah pasrah dan menyerah. Hatiku semakin tak menentu aku tak tahu pa yang mesti aku lakukan agar Vi bisa maafin aku…..!Akupun kembali berkumpul dengan teman-teman untuk melupakan kepedihan hari ini. Memang waktu band tampil di depan sejenak akau bisa lupa dengan masalahku. Namun ketika kutahu Vi di pintu cemberut dengan permen karetnya aku merasa sangat bersalah hari ini. Akupun memutuskan untuk mencoba sekali lagi mengatakan hal yang sama, kata yang sama persis tanpa edit. Aku langsung menuju ke pintu Aula dan berkata
“Vi mau ya maafin aku”pintaku pertama kali
“Vi kamu boleh marah ma aku tapi jangan diem kayak gini?”pintaku sekali lagi
Ku lihat Vi mau mengatakan sesuatu dan aku mendekatkan telingaku.
“Vi lagi marah banget ni, sebel banget jadi g’ bisa ngomong apa-apa!”
Akupun hanya diam membisu dan bertanya “Sampai kapan kamu akan gini?”Vi Cuma diam dan meniup permen karetnya sebesar mungkin untuk menghibur dirinya sendiri. Akupun cuma diam disampingnya dan sekali-kali aku melihat mata dan mukanya. Dan dalam hati ini aku jadi tahu betapa beartinya sebuah persahabatan. Kini telah kurusak dengan hitungan menit. Akupun takut hadapi kenyataan ini. Dan aku putuskan untuk pulang kembali ke rumah. Dan memikirkan apa yang harus kelakukan. Di perjalanan aku merenung, memang aku hari ini yang salah, memang aku hari ini yang melukainya, semua salahku dan akupun tahu betapa sakit hatinya. Tapi paling tidak dia masih bisa tersenyum bebas dan tertawa lepas bersama orang lain. Termasuk dengan sister-sisternya, temannya, orang yang dia sayang. Jadi aku harus pergi tanpa mengganggunya lagi. Vi semoga kamu bisa maafkan aku di hari yang lain. Sesampainya di rumah aku langsung tidur. Tak ada mimpi yang sepurna, akupun terbangun di tengah malam, langsung saja ku ambil air wudlu kemudian sholat malam sambil memohon pada Yang Kuasa untuk membuka pintu hati Vi agar maafkan aku. Langsung saja aku menulis cerita ini! Dan harapanku aku bisa temani kamu di waktu yang lain sebagai yang lain, jadi orang baru yang datang padamu dan kamu kini takkan mengenal lagi aku. Aku Jauari…..!untuk Vi makasih telah ada dalam hidupku yang singkat ini. Dan kini kebersamaan bersamamu yang singkat telah jadi kenangan yang tak pantas dilupakan. Karena aku tahu kamu adalah orang yang bisa buat aku melakukan hal yang menetang arus. Dan 6 kata yang takkan pernah kulupa.yaitu “SO…..SWEET…..>>>!MANIS BANGET…!Mau Dong…….!”

PENGAGUM JIWA

Engkau telah memalingkan muka
Mengejar arah kesibukan dunia
Pergi secepat kilat
Hilang dalam bayang dipelupuk mata
Senyummu berikan rindu
Atas kepergian angin lalu
Untaian kata dari lubuk hatimu
Bangkitkan raga dalam kesunyian
Tatkala langkahmu lalui panca indera
Sekejap hampa jadi terisi
Tanpa kekosongan dalam kekuatan
Di setiap detik hembusan nafas
Di sini pengagummu terdiam
Tertikam dalam keheningan lagumu
Mungkin tlah gugur penerangmu
Mencari jawab dalam sejuta tanya
Lantunan lagumu seperti lilin
Bersinar terang benderang di kegalapan
Pancarkan kesucian seorang dewi
Engkaulah pelita di dunia nyata
Tersudut hatiku atas dukamu
Menetes air dari dua mataku
Engkau, dewi telah terluka
Atas kekejaman nafsu tak terjamah
Meski terpisah lautan dan hutan rimba
Kita tetap seperjalanan jua
Namun sebelum kita
Menempuh jalan yang berbeda
Dengarkanlah! Kumpulan isi hatiku
Pengagum jiwa dari dua sisi
Antara ada dan tiada
Tetap jadi maya dalam detak jantungmu
Berjalanlah sambil menari
Tapi bukan tari memikat
Melaikan, tunjukkan damai
Akan dapat hidup selamanya di hati
Sebab hanya kelincahan dewi
Menari kian kemari membawa
Ramai dalam sepi
Kata dalam bisu
Untuk tetap ada
Sampaikan mutiara kebenaran kata
Semikan bunga – bunga gugur
Dari jiwa berlumur luka

Amerika Siapkan Polisi Robot

Jakarta – Perusahaan robotik Amerika Serikat (AS), iRobot, telah mengumumkan kerja sama dengan Taser yang merupakan perusahaan pembuat senjata tidak mematikan.
n
Vnunet yang dikutip detikINET, Rabu (4/7/2007) melansir, kolaborasi ini bertujuan untuk mengembangkan robot khusus untuk pasukan kepolisian. Meski awalnya dikembangkan di AS, iRobot juga berencana memasarkan robotnya untuk kepolisian di negara lain.

Kedua perusahaan tersebut kini baru saja menyelesaikan pembuatan prototype robot berukuran kecil yang mampu membawa tas ransel dan dilengkapi dengan perangkat Taser X26 yang mampu menembakkan 50.000 Volt aliran listrik dari jarak 15 kaki.

Mantan Vice Admiral Angkatan Laut AS Joe Dyer, yang saat ini menjabat presiden iRobot Government & Industrial Robots mengatakan, perangkat tambahan yang diberikan oleh Taser akan membuat robot yang mereka kembangkan mampu untuk diadopsi para penegak hukum.

“Tambahan tekologi dari Taser ke dalam platform iRobot akan menyediakan peralatan penting bagi SWAT, penegak hukum dan militer untuk membantu dalam menangani beragam situasi berbahaya,” ujarnya.

Tentara AS saat ini juga sudah menggunakan ratusan tipe robot di daerah konflik seperti di Irak dan Afghanistan, untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa tentara mereka yang lebih banyak. Namun, untuk robot terbaru yang akan dikembangkan rencananya hanya akan digunakan untuk membantu kinerja kepolisian lokal.

Sedikit bocoran mengenai kemampuan robot ini, yaitu mampu untuk digerakkan di dalam gedung yang dikendalikan dari jarak jauh dan di masa depan diharapkan dapat bergerak secara otomatis. ( ash / wsh )

Toyota Motor Corp Kembangkan Robot TPR-Robina

Robot yang diberi nama TPR-Robina ini memiliki bobot 60 kg dengan tinggi 1.200 mm. Sejumlah gerakan manusia mampu diikuti robot ini.

robina

Hasil pengembangan terbaru “tour guide robot” dilengkapi dengan kemampuan pergerakan otomatis dalam menghindari rintangan yang ada di hadapannya. Kemampuan ini berkat sinyal autograph yang dimilikinya. Tidak hanya itu, Robot ini mampu melakukan interaksi dengan pengunjung melalui komunikasi secara verbal dan gerak tubuh.

Menurut pihak TMC, diharapkan robot hasil ciptaan Toyota ini akan dapat banyak membantu aktivitas orang atau individu dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, dengan kemampuan yang dimiliki, TPR-Robina juga dapat membantu menciptakan masyarakat yang sehat dan nyaman di masa-masa mendatang.

Pihak pabrikan yang menjadi mitra Toyota dalam mengembangkan robot ini sudah memperkenalkannya tahun 2005 dalam “World Exposition” di Aichi-Jepang. Sejak itu, Toyota berkomitmen bekerja sama dalam membangun dan mengembangkan robot itu.

Ada empat fokus area dalam mencapai hasil sukses dalam pengembangannya, yakni robot tersebut bisa memiliki sisi-sisi kemanusiaan, dapat membantu tugas-tugas domestik (rumah tangga), membantu perawat dan pihak rumah sakit dalam menangani pasien, kemudian membantu usaha pabrikan dengan menjadikan robot tersebut sebagai personal transport.
(kano/pra)