RASA YANG TERLAMBAT

Saat kuterjebak oleh hujan ku berteduh di teras putih sekolah. Tak sengaja imajiku meluapkan sesuatu. Penderitaan yang ditinggal orang kita kita cintai ternyata lebih sakit dari luka bakar atau sayatan benda tajam. Gemericik hujan yang pelan jatuhnya, kala itu, membuat diriku berpikir tentang sosok bayang yang menarik hati. Sejenak, jeratan masa laluku lepas begitu saja. Langit masih tertutup awan gelap, Yang Diatas sedang menunjukkan kekuatannya kepada umat manusia di Bumi Ronggolawe ini. Tak ada satu pun manusia yang mampu untuk melawan-Nya. Pelangi pun tak ada semakin menambah murung dunia kali ini. Mataku mengembara kesana kemari, menerawang apa yang akan terjadi padaku setelah ku ditinggal orang yang dicinta.
Jarum jam arloji telah menunukkan pukul 16.30 hari semakin sore. Anginpun semakin ribut mengeluarkan gemuruhnya, diatas kulihat petir saling bersahut-sahutan dengan getaran listrik putihnya. Kuterpikir sudah saatnya untuk menerobos hujan yang menyebalkan ini. Pabila tak kuterobos hujan ini maka bisa-bisa aku sampai isyak terjebak disini. Kukukuhkan niatku untuk melawan hujan ini, namun saat akan kupancal sepeda, hawa rasanya menjadi lain. Mendadak sesosok wanita seperti pelangi dengan warna merah muda, layaknya dewi dalam diri manusia. Perasaan ini menjadi lain indra keenamku menyuruhku berhenti dan dan menatap wajahnya. Tanpa kusadari mataku memandangnya terus dari ufuk tanpa berkedip. Merah muda warna yang bagus, lembut dan membuat seseorang terlihat anggun bila memakainya. Matanya yang kalem dan santai, yang bersinar seperti kilauan mutiara telah mamaksaku berkata.”Masya Allah masih ada saja wanita seperti ini di abad 21, kukira telah mati ditelan peradaban modern.” Tak seperti biasa aku yakin ini yang terbaik dari yang baik. Biasanya serba terbuka tapi ini lain berjilbab dan …pasti punya akhlak baik.
Tak sampai disini kekagumanku terhadapnya, hal ini membuatku rela berlama-lama di tempat parkir hanya tuk melihat secara utuh dirinya. Dari ujung kaki sampai keatas kepala yang tertutup rapi dengan kerudung merah muda membuatku terpaku tak tahu ungkapan atau bahkan kata indah yang harus aku ucap. Terlihat olehku ia begitu terburu-buru dan bergegas untuk meninggalkan sekolah ini. Detik-detik berlalu dan menjadi menit hujanpun tak mau mengalah. Setajam pisau mataku ingin mengerti siapa dia. Dibalik pohon aku mengamatinya dan kulihat ia terburu-buru naik sepeda bersama seorang temannya. Begitu sepeda distater dan langsung maju dengan kecepatan tinggi. Saat kupandang dan mencapai titik terjauh mata ia berbelok kemuadiam menengok kebelakang dan tersenyum kepadaku. Hal ini membuatku semakin tergoda akan dirinya yang muncul begitu mendadak. Arlojilku dengan beberapa titik air hujan sudah menunjukkan pukul 15.15, tanpa pertimbangan aku langsung menerobos hujan ini, melawan dingin dan petir sialan ini. Bagiku aku bisa selamat sampai di rumah merupakan hal yang baik daripada tidak.
Sesampai dirumah pikiranku menghayal dewi dalam diri manusia hari ini sampai tak kauran. Belajarpun jadi kacau dan waktu itu mnemaksaku menulis sebuah puisi. Dan berikut puisinya;
SENJA DI BARAT

Izinkan aku menulis
Mungkin akan terdengar membosankan
Mungkin juga memuakkan
Kemarin….aku melihat
Mentari terbit di ufuk timur
Dan kini ia berdiri didepanku
Tersenyum……memikatku…….
Tulisan ini bukan tulisan biasa
Setiap kata punya makna
Aku rasa……
Kutak bisa melupakan bayangan itu
Siti……Solicah………
Bagiku sama .!
Apa hatimu berkenen ?
Jika berkenan biarkan aku
Menatap matamu, melihat wajahmu
Yang bersinar putih melebihi kelopak melati
Ingin ku kisahkan cerita
Tentang aku dan engkau
Entah esok atau nusa dan … entah
Memilukan …….
Mengagungkan………
Kaukah itu yang beristirahat denganku..?
Senja di ufuk barat…….

Hari sekolah telah dimulai. Kebetulan hari ini kosong jadi aku dan teman-teman pergi ke warung De Mutt untuk sarapan. Saat berjalan menuju ke warung aku melihat dewi dalam diri manusia itu sedang bersandar di pojok menyimak pelajaran hari itu. Tak sengaja mata kami saling bertemu pandang, kalau tak salah sampai membentuk sudut 180 derajat. Namun pandangan itu hanya sesaat karena aku disapa oleh Anang. Sesampainya di warung, teman-teman bertanya siapa yang aku pandang tadi. Aku jawab aku tak tahu siapa dirinya. Kamipun tidak membahasnya dan melanjutkna makan nasi pecel lagi.
Bel istirahat berbunyi, rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Aku segera ke kelas XA dan menanyai Anang siapa dan bagaimana dia. Setelah kubertanya dan mendapatkan informasi yang cukup aku segera kembali ke kelasku. Dan ini puisi saat ku mencoba memujanya.
TENTANGMU

Tersenyumlah .
Meski jauh!dapat kurasa dari sini
Saat dekat, saat kata berpeluk
Engkau membumbungkan khayalku
Engkau menenggelamkan asaku di dasar hati
Betapa kagum diriku
Atas aura yang kau pancarkan
Memancarlah terang jangan pernah redup
Bisakah aku mengenalmu lebih jauh…
Sang Dewi..?
Meski terang bukan untukku
Tapi kubisa nikamati dari sini
Antara ada dan tiadakah harapan ini..?
Di benakku hanya ada tentangmu
Tentangmu ….
Dan hanya tentangmu ..?

S
ungguh aneh di beberapa kesempatan yang kebetulan aku selalu bertemu dengan dirinya dan memberanikan menyapanya. Karena waktu itu hampir setiap hari bertemu, tapi hanya satu saja yang bisa kuceritakan. Bulan April adalah bulan yang bersejarah bagi kaum wanita. Tepat pada hari Sabtu tanggal 16 April SMA I Tuban diadakan peringatan hari Kartini, dimana setiap siswa diwajibkan memakai kebaya bagi wanita dan batik untuk yang laki-laki. Diantaranya diadakan pemilihan Putri Kartini di Aula. Aku tetap mendukung kelasku sepenuhnya juga dia. Ia tetap mendukung kelasnya, ini membuat kami untuk adu mulut dan akhirnya rukun juga karena jarakku dengan dia semakin dekat. Hanya terpaut satu lantai kira-kira 20 cm. Kupandangi ia dengan ekpresi sinis ia pun membalas yang sama. Terus aku bertanya.
”Wah ijo, mengapa kok pakai hijau?”tanyaku dengan gaya muka manis.
”Apa ….ijo!kalau ijo itu dilihat mata seger daripada item”jawabnya.
”Kok gak pakai pink lagi”tanayku dengan gaya santai rada meremehkan.
”Bosen….”dengan jawaban yang singkat ia menggelengkan kepala kekanan dan kekiri.
”Apa bener kamu siti …..solikah…!tanyaku sambil ku pisah-pisah mengejanya.
”Bener..kamu sendiri siapa…Apa kamu Jauuuh…buanget…?’’ tanya ia sambil mengejek.
”Iya …aku lagi bawa hp mau ya tak foto,habis kamu orangnya asik”pintaku sambil memuji.
”Jangan ah….mau kamu buat apa?”tanya ia dengan kelembutannya sebagai wanita.
”Ya…telat udah tak jepret jadi maaf udah terlanjur.” jawabku sederhana.
”Ah…knapa sih gak bilang-bilang…mana …!”pintanya.
“Ya ni lihat aja …tapi jangan di hapus !”ancamku
”Enggak…enggak..gak tak hapus jangan kuatir”jawabnya untuk memastikan
Waktu ku sodorkan hp tanganku mengenai permukaan tangannya yang halus. Uh… semakin mengagumkan saja waninta ini. Selang beberapa saat hp kuterima kembali. Banyak teman yang mengejek kami tapi tak kuhiraukan karena masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Dapat kurasai dia sangat menakjubkan atau aku yang terlalu melebih-lebihkan. Dasar aku……kurang apa…semua hidupku telah terpenuhi tak ada yang kukeluh apa ini sebuah beban baru. Ah sudahlah mudah-mudahan tak akan terjadi apa-apa. Akhirnya pemelihan Putri Kartini telah usai, wakil dari kelasnya menang dan ini membuatku malu. Tetapi tak apa, karena putri terfaforit jatuh ke tangan wakil dari kelasku untung ada obat untuk tutup malu.
Acara telah selesai tapi kekagumanku belum selesai, semakin jelas sudah dimana aku bisa membatasi sebatas apa yang aku kagumi. Ini adalah puisi dengan tema Kartini……..

PUTRI KARTINI

Ibu engkau sosok pahlawan bangsa
Dari ufuk timur
Engkau terbit bersama mentari
Membuka harapan baru untuk kami
Engkau perintis kaum wanita
Untuk sejajar laki-laki
Aku disini mencari arti akan dirimu
Atas kerja kerasmu
Seabad lebih jenih payahmu
Membawa kami maju selangkah
Bahkan tundukkan kaum adam
Tapi arti ini taklagi terniang
Di kepala kami
Dan kini,
Kurasa kebebasan dunia
Telah menenggelamkan semangatmu
Di hati kami …
Kami sadar,
Engkaulah penerang di kegelapan
Ibu lewat 21 Aprilmu
Engkau hadir lagi
Dalam jiwa raga kami
Mengenang kemarin
Kami tertunduk lesu
Kami kini berpuisi
Mendendangkan kebesaranmu
Sadarlah kaum hawa
Kita ini bukan yang begini
Kita ini putri Indonesia
Putri…putri ….
Putri Kartini.
Puisi ini kubuat dengan mengibaratkan tentang generasi wanita sekarang.

****
Sekolah telah dimulai kembali, pelajaran aktif lagi apalagi bulan ini menjadi bulan penuh hikmah bagiku. Karya Imiah yang kukirim di Diknas ternyata mendapat respon, Kamis nanti aku akan mempresentasikannya. Tapi, sayang Siti semakin cuek kepadaku seolah tak mengangap aku ini manusia. Mungkin ia anggap aku angin yang lalu. Karena sikapnya seperti ini akau panggil ia dengan sebutan pesek (perasaan Siti etu Cuek amaku). Setiap bertemu dengannya kupanggil pesek dan pesek serta pesek.Hal ini membuatnya marah dan membuatnya bilang bahwa hidungnya itu tidak pesek.
*****

Awal pelajaran baru telah dimulai. Kelasku tetap menjadi kelas XI-IPA V dan aku semakin senang karena sekarang aku bisa ngeliat Siti terus. Sekarang ia duduk di XI-IPA IV. Sudah banyak informasi yang kuketahui mulai dari nomor hp, apa ia jomblo atau udah gak jomblo lagi. Tapi rasaku ini kan masih sebatas kagum jadi ya tetap kuteruskan menjalin hubungan pertemanan yang cukup rumit ini.
Sejak kutahu nomor hpnya aku sering menggodanya, kadang lewat misscall atau dengan sms-sms usil. Suatu ketika ia kehabisan pulsa dan aku mengisinya karena ia sendiri yang minta entah serius atau tidak. Akhirnya bertepatan dengan aku yang mau isi aku juga mengisikan pulsa di hpnya dengan cara elektrik. Setelah diterima aku telepon dia dan sambil kugoda aku menanyainya secara langsung apakah ia masih jomblo atau tidak, dan jawabnya tidak. Jadi, ya gak masalah untung saja rasaku ini belum berkembang jadi cinta selamatlah aku dari sakit hati. Tapi bila aku mengenalnya lebih awal akan kumiliki dia. Mungkin bila tepat disebut sebuah”Rasa Yang Terlambat.”
Dan sebagai rasa terima kasihku kupersembahkan puisi-puisi ini untukmu. Karena kau salah satu inspirasiku menggapai perjalanan panjang. Thank’s Siti. Semoga kita bertemu di waktu yang lain dan tempat yang berbeda dengan rasa yang berbeda pula.
Assalammualaikum…..Wr….Wb.
7 Agustus 2005

MENTARI

Engkau sangat terang seperti mentari
Sangat menyilaukan lain dari yang biasa
Mengagumkan sampai ke dasar hatiku
Apakah hadirmu …..?
Hanya sebuah kisah yang tak pernah singgah..!
Di kehidupan ini dan akan menjadi nyata.
Seperti bulan lelap
Yang tidur di ketenangan hati
Kau begitu cepat sebarkan kehidupan dihatiku
Menyemikan tunas baru ….
Lepaskan dari jeritan tangis masa lalu.
Wahai perempuan kapanku bisa bersanding didekatmu lagi…
Meski tak ada cinta
Takkan mungkin kau tolah persahabatan kan?
Benarkah?
Jangan terlalu pengecut tuk bilang tidak
Karena kau lebih berkuasa sebagai Mentari

(Agar kau mengenalku ini adalah tentangku)

HIDUPKU

Masaku yang penuh tawa hilang sudah
Waktuku yang penuh manja berangsur pergi
Terbang, hilang, membumbung tinggi
Meninggalkan setumpuk puisi hati
Buaian ibu dikala tidurku
Berganti sepi meringkus mimpi
Sederet nasehat dari ayahku
Berubah hampa tiada tersisa
Kini aku seorang diri…
Jalani hidup di negeri terasing
Berbekal satu harapan dan cita
Kurajut benang hidupku dengan pasti
Disini bagaikan terpidana
Terkurung dalam pulau tak dikenal
Jauh dari keluarga dan orang tercinta
Hanya kehampaan yang selalu setia menemani
Aku disini untuk apa?
Jauh ..datang dari desa
Mengadu nasib di pusat kota
Berperang hidup melawan rasa
Rindu orang tua….
Rindu keluarga …..
Rindu desa tercinta
Bahkan rasa CINTA

Namun tekad takkan goyah
Karena cita telah menyatu bersama darah
Dan harapan untuk maju
Menyusup ke paru-paru lewat nafasku
Lewat sebatang pena ini
Kan kuukir masa depan penuh arti
Kan kugali ilmu untuk esok nanti.

PENANTIAN

Telah lama ku menanti…..
mentari tersenyum, berseri
sinari setiap jalan hidup,
puisi adalah nyawaku,
Setiap huruf kuubah
jadi deretan kata indah
mengandung sejuta makna…,
Lama ku mencari arti embun
yang turun di petanaman,
hasratku terapung dalam jiwa
kelembutan rima,..
nafsuku tenggelam di pepatah sajak,
kuhidupkan kata-kata mati.
Namun hidup bukan hanya hidup,
bila ini jalan hidupku,…
maka jangan kau tinggalkanku.
Ceritakan suka dukamu
di teras hatiku….
Dan jika kata telah berpeluk
sapalah aku…
walau hanya secarik
ataukah sepatah kata .

PEREMPUAN
Perempuan yang menyanyi
Di tebing malam-malam bintang
Di jurang kesunyian alam
Kala matamu mengirimkan seratus senja
Ke belantara batinku yang dikutuk kata
Sebuah puisi bagai angin
Menerbangkanku kepada putih wajahmu
Dan seperti cahya bintang
Tubuhmu menyalakan keindahan abadi
Hingga aku berlari ke arahmu
Membawa jiwa kagumku untuk ku lebur

Kupuja segalanya
Meski diriku sebuah gurun
Tanpa mata air yang mampu membasuhmu
Tetapi engkau gelora lautan
Mendebarkan bayi-bayi mimpi
Saat bulan menanggalkan topeng
Bagi langit malam yang durjana.
Yang menari dalam badai
Abadilah bayang jelitamu!
Puisiku menjelma kereta kencana
Menjemput auramu
Ketika tarianmu menjadi kastil bernyawa
Menggetarkan auraku
Bagi harpa Istar yang menggelombangkan sebuah nada
Perempuan yang membunuhku dengan senyuman
Jangan kau pejamkan matamu
Ingin kuledakkn kagumku di
Api biru hatimu…!

2 Responses

  1. Terkadang perasaan cinta datang tanpa kita sadari.
    Hadirnya bagaikan mentari pagi. Biarpun lambat tapi pergerakannya pasti. Seperti gerak tumbuh dedaunan, seperti bunga yang mekar dan seperti yang kurasakan. BENARKAH ITU….??

  2. waktu suamiku meninggal,aku oikir mantari sudah meredup……………..
    seiring berjalan nya waktu,mentari itu masih bersinar yaitu sinar anak2ku……………..
    aku merindukan mentari suamiku…………………………..
    walau mentari anak2ku siap menyinari aku………….
    ya allah ……………………………………….’ampunilah segala dosa2 suamiku”””””””””””””””””””’
    suamiku tersayang……………………………………kau tetap mentari bagi aku dan anak2………………………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: