WHAT IT’S?

Hari- hari semakin berat saja, lelah rasanya memikirkanmu. Mau aku tinggalkan tak mungkin, ingin kuanggap sebuah kenangan kututup dan kubuka lembar baru sangat sulit. Semua yang telah aku lakukan percuma saja. Sudah 3 hari tak ada yang bisa buatku lupa dengan Vi.
Berjuta impian kini tak pernah terajut. Senyum pun tak pernah terbagi untuk orang lain. Kini aku hanya bisa tersenyum untuk diriku sendiri menertawan semua yang telah terjadi. Mungkin tak bisa kulewati hari-hari selanjutnya tanpa sebuah senyuman. Senyum sangat bearti untukku karena bersama sebuah senyuman aku bisa letakkan indahnya kebersamaan.
Hampir setiap saat aku sempatkan bertemu dengannya, bertanya kabarnya pada siter-sister. Sapaku pun tak berarti lagi baginya. Wajahnya pun kini tak tampak ceria dan hanya kemarahan yang ada. Sadar atau tidak aku merasa jadi orang yang sangat munafik kalau aku bisa hidup tanpanya.
Memaknai peristiwa kemarin sudah tak ada artinya lagi. Mungkin terlalu sakit hatinya tak mungkin hal kemarin bisa balik berulang. Aku hanya bisa lihat dirinya dari kejauhan ketika kuingin mengucap sebuah kalimat tiga kata “Vi maafkan aku” tak ada tanggapan yang serius apalagi waktu yang cukup untuk memandangnya tersenyum manis. Bila ini terbaik untuk kita, hidup dalam kesendirian dan lepas dari sebuah kebersamaan meninggalkan semua apa yang telah kita rencanakan, menghapus semua asa kita dan kini terpisah dari sebuah senyuman.
Betapa sakit waktu itu, sepulang sekolah sekitar pukul 12.25 bel berbunyi dan waktunya untuk pulang. Aku sengaja tetap di tempat parkir dan mengabaikan semua temanku yang mengajak pulang bareng. Ku dalam hati selalu berdoa untuknya agar bisa maafkan aku kelak walapun tidak hari ini. Namun semuanya semu ketika sapaan untuknya tak dihiraukan sama sekali.
“Vi….!”sapaku
“Vi….!”sapaku
“Vi….! Kamu masih ngambek?napa Vi kok g’ bisa maafin aku?Apa g ‘ da kesempatan untukku yang kedua?”tanyaku dengan memelas tanpa hiraukan anak-anak yang melihatku.
Entah berapa kali aku menyapanya namun tetap tidak ada respon. Aku ingin kamu bercerita apa yang buat kamu g’ bisa kasih maaf. Vi apa yang haruk kulakuin? Karena kecewa yang aku dapat maka kuputuskan untuk segera pulang. Untuk melupakan hari ini sangat sulit, jadi aku putuskan untuk kebut-kebutan di jalan seperti biasa kalau lagi BT. Entah keberapa kalinya aku akan menabrak tapi aku masih sangat beruntung. Sampai-sampai aku ditantang kebut-kebutan oleh Gus May. Tapi tetap tak aku hiraukan ajakannya itu.
Ingin aku larut dalam hari sepi esok dan memulai hidup baruku. Namun bagaimana bisa? Kini Vi tak pernah anggap aku ada. Baiklah aku harus rubah pikiranku. Aku harus bisa menjadi yang lain. <Apa aku bisa?>
***
Langit sedang cerah, angin bertiup sangat kencang, menyeret awan putih yang lembut ke berbagai arah dan buat orang untuk menumpahkan segala kegelisahannya. Angan dan kahayalan dalam kesendirian bisa membawa seseorang larut di kesedihan atau dalam kesenangan. Ja masih teringat dengan Selasa yang lalu dimana ia tak bisa dapatkan maaf dari teman dekatnya yang telah mulai ia yakini sebagai motivasi untuk meraih sebuah impian. Tapi sayang kesalahan yang mestinya tak terjadi telah buat Vi tak memberi kesempatan yang kedua, walau hanya untuk sedetik menyapa dan mengucapkan terima kasih.
Tapi masa lalu adalah bagian dari kehidupan, sebuah permulaan pasti ada akhirnya. Dengan nafas yang setengah-setengah aku kembali sadar untuk menguatkan dirinku sendiri. Aku langsung mengajak semua temenku ke Laut menemaniku yang lagi tak bisa menentukan arah. Bagian yang paling disukai orang di pantai adalah bermain pasir, melihat mentari terbit ataupun tenggelam. Aku membuang masalah dan kembali menuju kebebasan. Setelah ku berteriak sekeras-kerasnya, ku mengajak meditasi dan berdoa untuk kebersamaan yang aku bina bersama temanku karena aku tak mau kehilangan teman yang ke dua kalinya. Bagaimanapun persahabatan adalah hal yang bermakna dalam kehidupan. Haripun semakin malam dan tak ada yang sanggup dengan angin malam ini. Jadi semua pilih untuk pulang ke rumah masing-masing.
Hari ini sekolah telah dimulai lagi Kamis, 14 September 2006. Hari ini tek ada pelajaran karena semua guru sibuk menyambut team penilai LLSS dari pusat. Takkan mungkin kita bertahan hidup dalam kesendirian. Aku tak bisa lepas dari rasa yang bersalah ini. Yang semakin hari buat aku merasa jadi orang yang bodoh. Dalam kesendirian aku terlalu sepi dan seolah tak bearti lagi untuk orang disekitarku.
Jadwal hari ini adalah membersihkan kelas masing-masing. Dan semuanya pabila telah selesai boleh pulang ke rumah. Tepat jam ’10 bel pulang telah berbunyi. Semua anak segera saja mengambil tasnya dan keluar dari pintu gerbang secepat mungkin. Lain dengan aku yang masih bengong di tempat duduk taman depan Kopsis sambil membawa Es Tea. Awalnya aku tidak merasa sepi namun setelah teman-temanku satu-persatu pergi meninggalkan aku, baru kusadari menunggu memang banyak cobaan. Tapi tentunya adalah perbuatan yang mulia. Bagaikan sebuah pribahasa Jawa Tunggak jati bakale mati, tunggak jarak bakale urip.(Vi artikan sendiri ya……>>>>!)
Sudah 2 jam lebih Vi bersama Dyan juga belum kelihatan batang hidungnya. Tapi tekadku sudah bulat aku akan tetap menunggu Vi karena 3 hari kedepan aku tak bisa melihatnya. Dalam hatiku aku tetap berdoa dia bisa kembali tersenyum dan memberiku maaf. Semua ada akibatnya dan semua ada nilainya. Dari tempat duduk ku bangkit dan melangkah ke parkir. Aku menunggunya dan akirnya tepat 3 jam aku menunggu dia telah datang. Dari kejauhan dia terlihat murung dan dalam trouble yang cukup besar….(sok tahu bangey ya!)
Tanpa kusadari aku melihat dia mengeluh pada kakkinya yang terkena knalpot sepeda motor. Entah apa yang akan kukatakan bila ia telah ada didepan mataku. Mungkin juga aku akan bilang kata yang sama dan akan selalu ku ulang untuknya.
“Mas ne dia lagi BT coz kakinya kena knalpot sepeda! Kasihan mas…!”Kata Dyan padaku sambil melempakan senyumnya yang manis.
“Masa Dik…! Vi…..!”sapa ku dengan wajah yang frustasi.
Berbeda dengan Vi sejak turun dari sepeda dia telah mencembungkan pipinya dan menyempitkan kedua mulutnya seraya menatap semua orang dengan tatapan kemarahan yang sangat besar. Tetap saja aku beranikan diri berkata “Vi maafkan aku ya ?” tapi apa dia tak menggubris semua panggilanku. Sia –sia saja semua penantianku sejak tadi. Aku langsung men-starter sepedaku dan pulang dengan cepat. Aku cuma bisa berkata pada diriku sendiri. What it’s it? It’s too difficult to understand.
Vi kamu udah tahu banget jalan crita selanjutnya kan? Terusin sendiri yaw!Makasih kamu udah buat aku jadi lebih mengerti tentang sesuatu yang harus dijaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: