Yang dulu…

Akhir Setetes Harapan

Setetes harapan yang kutuang dalam secangkir cinta

Menguap dalam keheningan batin yang kosong

Mengembun dalam kepalsuan rasa

Membeku dalam kerasnya sukma

Harapanku yang bangun

Dari hati yang paling hina

Dari raga yang penuh cerca

Dari jiwa yang terluka

Menetes mencari pasangannya

Tetesan itu pun telah tumpah

Tumpah dan terus mengalir

Tapi,

Kemana tetesan itu mengalir?

Ia mengalir dalam samudra asmara

Yang tak pasti kapan hentinya

Terombang-ambing oleh badai

Hingga ia tak dapat henti dalam sebuah daratan

Padahal daratan itu adalah harapannya

Kemanakah engkau wahai daratan?

Aku ingin memelukmu

Tetesan harapan pun tak kuasa

Melanjutkan perjalanan

Hingga memilih sebuah keputusan

Keputusan yang berat

Tapi,

Tak dapat digugat

Aku memilih sebuah pulau

Pulau yang kecil di tengah samudra

Karena aku ingin sebentar bersandar

Hingga kakiku kembali pulih seperti sedia kala

Bukanya aku telah terombang-ambing badai

Di samudra yang tak ada celahnya

Di pulau ini aku bisa merasakan sedikit kenyamanan

Aku bisa menghirup harumnya dunia ini

Aku bisa meraba diriku kembali

Hingga aku dapat jadikan pulau ini

Sebagai pilihan hidupku

Atau mungkin,

Akan muncul harapan baru

Yang suatu saat malaikat akan menolongku

Mendapatkan sebuah daratan yang lebih indah

Yang mewanai hidup baruku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: